Welcome to PMR SMAN1P's blog

Hello Comments Hi5
Go to homepage
Welcome to Red Cross Youth Porong Senior High School's Blog. St.Bhayangkari 12 Porong, Sidoarjo, East Java. e-mail : Pmrwirasman1porong@yahoo.co.id
Photobucket
Tampilkan postingan dengan label Siaga Bencana. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Siaga Bencana. Tampilkan semua postingan

Jumat, 20 Agustus 2010

Kebakaran



Api sangat penting bagi kehidupan, karena api memberikan banyak manfaat. Api dapat dijadikan penerangan, memberikan kehangatan dan berfungsi dalam mengolah makanan. Jika banjir adalah air yang ketinggiannya melebihi batas normal, maka kebakaran adalah api yang tidak dapat dikendalikan. Api menjadi berbahaya, ketika manusia tidak dapat mengendalikannya.


Api yang tidak terkendali disebut kebakaran. Kebakaran dapat disebabkan oleh faktor alam dan juga kecerobohan manusia. Rata-rata petir menyambar bumi 100.000 kali per hari, tetapi kebakaran lebih banyak disebabkan kecerobohan manusia, seperti pembakaran hutan, membuang puntung rokok sembarangan, kompor yang meledak, korsleting atau hubungan pendek listrik dll.

Kebakaran menyengsarakan kehidupan manusia, binatang dan tumbuhan yang hidup di wilayah tersebut. Kebakaran bahkan dapat mengganggu keseimbangan ekosistem lingkungan. Kebakaran hutan mengakibatkan hilangnya pohon-pohon yang mempengaruhi daya serap air. Kebakaran hutan secara tidak langsung dapat menyebabkan bencana banjir dan tanah longsor. Kebakaran hutan juga dapat menimbulkan kepulan asap yang menyebabkan gangguan pernapasan dan penglihatan.

Jenis Kebakaran
Di Indonesia, kebakaran dikelompokkan sebagai berikut :
1.    Kebakaran Kelas A, yaitu kebakaran yang disebabkan benda-benda padat, misalnya kayu, plastik, kertas, kain dll.
2.    Kebakaran Kelas B, yaitu kebakaran yang disebabkan oleh benda-benda yang mudah terbakar, yang biasanya berbentuk cairan seperti minyak tanah, bensin, solar, alkohol dll.
3.    Kebakaran Kelas C, yaitu kebakaran yang disebabkan listrik dan bahan kimia kering.
4.    Kebakaran Kelas D, yaitu kebakaran yang melibatkan bahan bakar logam, seperti titanium, sodium, magnesium, potasium dll.

Banyak orang yang tidak menyadari perilaku atau kebiasaannya dapat mengakibatkan kebakaran. Kelalaian manusia ini kadang menimbulkan kerugian besar dan korban jiwa. Misalnya membuang puntung rokok atau korek api di semak-semak dapat menimbulkan kebakaran. Orang juga harus hati-hati ketika membuat api unggun. Kita juga perlu hati-hati dalam penggunaan peralatan sehari-hari seperti menyalakan lilin, kompor, alat-alat listrik dll. Kelalaian dalam penggunaan alat-alat itu akan menimbulkan kebakaran. Orang tua juga harus mengawasi anak-anaknya agar tidak bermain dengan api.

Waspada Kebakaran

Api terjadi karena persenyawaan dari sumber panas, benda yang mudah terbakar dan oksigen. Sumber panas bisa berasal dari energi elektron (listrik statis atau dinamis), sinar matahari, reaksi kimia dll. Benda – benda yang mudah terbakar misalnya bahan-bahan kimia, bahan bakar minyak atau gas, kayu, plastik dll.

Sedangkan kadar oksigen di udara (atmosfer) sekitar 20%. Apabila ketiga unsur tadi bersenyawa, terjadilah api. Maka untuk mencegah terjadinya kebakaran, kita harus mengendalikan tidak terjadinya persenyawaan antara ketiganya.

Ketika kita berada di alam terbuka, udara dan benda-benda yang mudah terbakar ada di mana-mana. Maka dari itu, tidak aneh kebakaran hutan sering terjadi dimusim kemarau. Pergesekan antara rumput kering yang menimbukan panas,menimbulkan kobaran api yang sulit untuk dikendalikan.

TAHUKAH KAMU ???????


Cara menggunakan APAR, disingkat PASS :
1.    Pull, tarik pin hingga segel putus atau terlepas. Pin trletak di atas tabung APAR. Tanpa menarik pin, kita tidak akan dapat menekan handle sehingga isi tabung APAR keluar.
2.    Aim, arahkan nozzl  ke arah pusat api.
3.    Squeeze , tekan handle untuk mengeluarjan atau menyemprotkan isi tabung. Pada beberapa merk, letak handle pada ujung nozzle.
4.    Sween, sapukan nozzle yang kita pegang ke kiri dan kanan api. Patikan media yang kita gunakan dapat secara merata mengenai sumber api.

Tepat Bertindak Saat Kebakaran
Pahami bangunan di manapun kamu berada. Ingat-ingat di mana jalan keluar atau pintu darurat. Perhatikan juga letak alat pemadam api ringan ( APAR ) atau tombol alarm kebakaran.
  1. Jika kamu mendengar tanda bahaya kebakaran seperti asap dan bunyi alarm jangan panik dan tetap tenang. Hubungi segera petugas penyelamat untuk mendapat pertolongan.
  2. Jika kamu terjebak di dalam ruangan, tutup celah pintu  kain atau handuk basah.
  3. Merangkaklah di bawah asap, bernapaslah pendek-pendek.
  4. Mintalah pertolongan, beritahukanlah di mana posisi kamu berada, cobalah menarik perhatian regu penyelamat,misalnya dengan mengibaskan kain.
Mari Mencegah Kebakaran 
1.    patikan mematikan kompor dan alat-alat listrik setelah selesai digunakan
2.    jangan biarkan kabel-kabel listrik tetap tersambung jika tidak digunakan
3.    periksa secara teratur jika ada kabel yang trkelupas
4.    sebelum tidur atau meninggalkan rumah, pastikan tidak ada kompor atau alat-alat listrik yang tidak perlu menyala.
5.    jika menggunakan kompor minyak, jangan mengisinya terlalu penuh dan jangan biarkan minyak berceceran
6.    jangan meletakkan kompor terlalu dekat dengan dinding rumah.
7.    simpanlah bahan-bahan yang mudah terbakar dengan terlindung, jangan di dekat kompor atau sumber api lainnya.
8.    jika menggunakan kompor gas, letakkan kompor  gas  di ruangan yang ventilasinya bagus, sehingga terjadi pertukaran gas.
9.    jangan memasang stop kontak bertumpuk-tumpuk, kabel yang panas dapat meleleh dan menimbulkan percikan api.
10.    jangan membakar sampah di tengah terik matahari atau pada saat angin bertiup kencang.

INGAT!!!!!!
Pertolongan Pertama Luka Bakar :
1.    pada luka bakar yang baru, siramlah dengan air dingin
2.    bersihkan luka dan gunakan sabun anti kuman atau NaCl ( air garam ) untuk mensterilkannya.
3.    balut luka dengan kasa steril
4.    kalau luka bakarnya melepuh an tidak pecah, bisa juga tidak dibalut
5.    jangan sekali-kali membubuhi odol,mentega, kecap, garam dll pada luka bakar, karena justru akan menimbulkan kerusakan sel.
6.    segeralah minta pertolongan dokter.

Lanjut membaca “Kebakaran”  »»

Abrasi

Pengikisan Pantai dikenal dengan “Abrasi” yaitu sebuah proses berkurangnya daratan yang disebabkan oleh gelombang laut. Abrasi juga sering disebut Erosi Pantai.


Pengikisan pantai terjadi secara alamiah. Tetapi, dengan terganggunya keseimbangan misalnya berkurangnya hutan bakau dan terumbu karang. Pengikisannya menjadi tidak terkendali. Tak jarang proses abrasi menjadi bencana.


Sbagian besar pengikisan pantai yang terjadi adalah akibat rusaknya tanaman bakau di sepanjang bibir pantai. Bayangkan jika ombak yang tampak begitu indah, sedikit dmi sedikit mengikis pantai dan daratan ang ada. Pulau tempat kita tinggal sedikit demi sedikit terkikis. Rusaknya terumbu karang juga bisa menambah pengikisan pantai.

Pemerintah bersama mayarakat melakukan berbagi tindakan pencegahn.misalnya dengan membangun pemecah ombak dan menggalakkan penanaman bakau di pantai.

Lakukan Sekarang !
1.    menjaga kebersihan pantai daik dari sampah organik maupun non-organik.
2.    tidak merusak lingkungan pantai, apalagi menghancurkan terumbu karang.

TAHUKAH KAMU ??
Di Kalimantan Barat, pada 1980-an kecepatan abrasi mencapai sungai di Dusun Nanga Sungai dan Desa Sjaung, Kecamatan Embaloh Hilir,350 jiwa terancam longsor yang disebabkan abrasi sungai. Abrasi membentuk dua arus sungai baru yang mengelilingi pemukiman.

Lanjut membaca “Abrasi”  »»

Banjir



a.    Karakteristik
Gejala
•    Secara alamiah terjadi secara cepat, di daerah sungai atau pantai karena hujan yang terus menerus atau bersifat musiman.
•    Ulah manusia dalam hal pemanfaatan lahan dan penampungan air.
Karakteristik umum

•    Faktor yang mempengaruhi tingkat bahaya – kedalaman air, durasi, kecepatan air, rata-rata kenaikan air, frekuensi kejadian, cuaca
•    Banjir bandang – bendungan rusak, hujan yang tidak berhenti, hujan lebat secara tiba-tiba
•    Banjir sungai – lambat, dan biasanya musiman
•    Banjir pantai – berhubungan dengan angin tropis, gelombang tsunami, dan badai

Hal-hal yang dapat diprediksikan

Banjir biasanya tergantung pada musim, kapasitas penampungan air, dan survey pemetaan wilayah banjir. Beberapa sistem peringatan mungkin telah dipersiapkan, tetapi kadang hanya sedikit yang dilaksanakan, terutama sebelum banjir bandang dan tsunami terjadi.

b.    Tingkat Kerentanan
Faktor penyebab kerentanan

•    Perumahan yang berada di daerah banjir
•    Kurangnya kesadaran akan bahaya dan dampak banjir
•    Berkurangnya kemampuan penyerapan tanah (erosi, bangunan beton)
•    Pondasi tanah dan bangunan tidak tahan air
•    Elemen infrastruktur yang beresiko tinggi
•    Persediaan bahan pangan, pertanian, dan peternakan dan tidak disimpan dengan baik
•    Industri maritim dan perkapalan ikan
Dampak yang khas

•    Kerusakan fisik – Struktur menjadi rusak atau hanyut, hancur. Tanah longsor karena tanah menjadi basah. Kerusakan dilembah lebih besar daripada di wilayah terbuka
•    Korban – meninggal karena tenggelam, atau luka serius
•    Persediaan air – air tanah dan air sumur yang terkontaminasi. Air bersih mungkin tidak tersedia
•    Kesehatan – penyakit yang mungkin muncul: malaria, diare, infeksi
Persediaan makanan dan hasil pertanian– persediaan makanan dan pertanian mungkin rusak

c.    Hal yang perlu dipertimbangkan
Upaya mengurangi resiko
•    Kontrol banjir – bendungan, saluran air Banjir – kontrol erosi
•    Penilaian resiko dan pemetaan hazard
•    Manajemen penggunaan tanah
•    Mengurangi struktur tingkat kerentanan
•    Penghijauan (reboisasi)
   
Upaya kesiapsiagaan
•    Deteksi banjir dan sistem penyadaran
•    Pendidikan dan partisipasi masyarakat
•    Pengembangan rencana manajemen wilayah banjir
Kebutuhan paska bencana
•    Pencarian dan penyelamatan
•    Bantuan kesehatan
•    Penilaian bencana
•    Air bersih
•    Penyediaan makanan dan minuman jangka pendek
•    Pemantauan epidemologi
•    Penampungan sementara

Lanjut membaca “Banjir”  »»

Gempa Bumi



a.    Karakteristik
Gejala :
Bergesernya kristal batuan disepanjang daerah yang rapuh dan saling bertabrakan;

Karakteristik umum 
Bergetarnya bumi akibat gelombang dan dibawah permukaan bumi karena: 
•    Permukaan yang bergeser
•    Hentakan 
•    Tsunami
•    Getaran
•    Mencairnya es
•    Tanah longsor


Hal-hal yang dapat diprediksikan
Kemungkinan terjadinya gempa bumi dapat diramalkan tetapi tidak dapat ditentukan waktunya secara tepat.  Ramalan tersebut berdasarkan pemantauan kegiatan seismik (hal-hal yang berhubungan dengan gempa bumi), sejarah bencana, dan observasi. 

b.    Tingkat Kerentanan
Faktor penyebab kerentanan
•    Lokasi wilayah seismik (kedekatan wilayah pemukiman dengan wilayah/pusat gempa)
•    Struktur yang tidak tahan terhadap pergerakan tanah 
•    Tingkat kepadatan bangunan yang tinggi 
•    Kurangnya akses informasi mengenai resiko gempa bumi 

Dampak yang khas
•    Kerusakan fisik – Rusak atau hancurnya struktur dan infrastruktur. Kebakaran, rusaknya bendungan, tanah longsor, dan banjir mungkin saja terjadi. 
•    Korban – cenderung banyak, khususnya dekat episenter atau wilayah dengan tingkat populasi tinggi, atau bangunan yang rapuh.
•    Persediaan air – Masalah yang sering muncul biasanya karena rusaknya sistem air, polusi sumur yang terbuka.
•    Kesehatan – kasus luka patah tulang merupakan permasalahan utama.  Ancaman lainnya adalah persediaan air atau rusaknya sistem sanitasi.

c.    Hal yang perlu dipertimbangkan
Upaya mengurangi resiko
•    Pemetaan hazard (wilayah rawan gempa/bencana)
•    Pelatihan dan program penyadaran masyarakat
•    Penilaian dan mengurangi struktur tingkat kerentanan
•    Manajemen dan pemetaan penggunaan tanah dan pengkodean bangunan 
•    Asuransi

Upaya kesiapsiagaan
Mencermati informasi peringatan dini dan kesiapsiagaan gempa bumi 

Kebutuhan paska bencana
•    Pencarian dan penyelamatan
•    Bantuan medis darurat
•    Survey penilaian kerusakan dan kebutuhan 
•    Bantuan pangan
•    Rekonstruksi/perbaikan
•    Pemulihan ekonomi

Lanjut membaca “Gempa Bumi”  »»